PENGEMBANGAN
E-LEARNNG DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
A.
Pengertian e-learning
E-learning
adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi
informasi dalam proses belajar mengajar. Berikut beberapa pengertian E-learning
dari berbagai sumber:
1. Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan
sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran
(Michael, 2013:27).
2.
Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan
prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010).
3. Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana
untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara
langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
e-learning adalah model pembelajaran yang memanfaatkan berbagai perangkat
elektronik sebagai sarana/media pembelajaran. Perangkat elektronik yang
dimaksud mencakup perangkathardware seperti
komputer, video, tape, radio, televisi, handphone, maupun perangkatsoftware seperti jaringan komputer dan/atau internet. materi
e-learning tidak hanya didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal ataupun internet, tetapi
juga didistribusikan secara off-line menggunakan media CD/DVD
B. Karakteristik E-learning
Menurut
Rosenberg (2001) karakteristik E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya
mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali,
mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi.
Karakteristik E-learning menurut
Nursalam (2008:135) adalah:
1.
Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
2.
Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan
komputer networks)
3. Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self
learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh
doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil
kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan
dapat dilihat setiap saat di komputer.
C. Model Pengembangan E-Learning
Yang
dimaksudkan dengan model pengembangan e-learning adalah pola representasi yang
akan digunakan untuk merancang e-learning sehingga dapat manfaatkan oleh user
semaksimal mungkin.Terdapat beberapa model pengembangan e-learning.
Menurut Jolliffe, dkk., terdapat dua model utama yakni the mental
model dan the cognitif apprenticeship model.
1. The
Mental Model (Model Mental).
Model mental
diartikan sebagai penyajian-penyajian konseptual dan operasional yang dikembangkan
ketika orang berhubungan dengan sistem yang kompleks. Model-model mental
merupakan pemikiran yang terdiri atas kesadaran terhadap berbagai komponen dari
suatu sistem dan dievaluasi menggunakan berbagai metode termasuk pemecahan
masalah, mencari dan memecahkan persoalan, ingatan informasi, pengamatan dan
prediksi pengguna (user) terhadap pengetahuan capaian. Model mental
nampak lebih dari sekedar peta struktural dari berbagai komponen.
Terdapat beberapa komponen dalam
model mental antara lain :
a. Structural
knowledge
Merupakan pengetahuan tentang konsep
struktur domain pengetahuan dan diukur melalui jaringan dan peta atau
lingkaran-lingkaran konsep. Metode ini berasumsi bahwa pengetahuan dapat
dibentuk menggunakan simbol.
b. Performance
knowledge
Bertujuan untuk menilai pengetahuan
capaian dimana pebelajar diberi tugas-tugas pemecahan masalah untuk menguji
kesan visual mereka.
c. Reflective
knowledge
Disini pebelajar bisa menunjukkan
kepada yang lain bagaimana cara melaksanakan suatu tugas tertentu. Dengan cara
ini, pebelajar pertama harus membuat daftar perintah, deskripsi tugas dan
diagram alur untuk menmguji gambaran mentalnya.
d. Image of
system
Merupakan kenyataan dari model
pebelajar yang khas dinilai dengan meminta pebelajar untuk mengartikulasikan
dan memvisualisasikan bentuk-bentuk fisik.
e. Metaphor
Seperti juga gambar-gambar,
pembelajar akan sering menghubungkan sistem baru dengan pengetahuan ada
sehingga dapat dilihat orang lain.
f. Executive
knowlegde
Bertujuan untuk memecahkan
permasalahan, pembelajar harus mengetahui kapan mengaktifkan dan menerapkan
sumber daya kognitif yang diperlukan.
2. The
Cognitif Apprenticeship Model (Model Belajar Magang Kognitif)
Model
belajar magang tradisional biasanya memberi peluang untuk latihan.
Karakteristik model belajar ini antara lain: gagasan bahwa pekerjaan adalah
daya penggerak, dan penguasaan progresif terhadap tugas-tugas dihargai sebagai
nilai penyelesaian pekerjaan; ketrampilan-ketrampilan tertentu diawali dengan
belajar tugas; belajar dipusatkan pada capaian (perfomance) dan kemampuan untuk
melakukan sesuatu; dan standar pencapaian diaktualisasikan dalam pekerjaan
nyata.
Sesuatu yang dapat dijadikan teladan
dalam metodologi belajar tradisional yakni menyediakan satu dasar pijakan untuk
penggunaan model belajar magang kognitif dalam pengembangan materi print dan
Web-based. Model ini mengabaikan perbedaan-perbedaan antara pendidikan dan
pelatihan dan membantu pembelajar untuk menjadi seorang ahli
Sihabudin dalam http://ejournal.sunanampel.ac.id/index.php/Nizamia/article/view/301
menguraikan dua contoh model pengembangan e-learning yakni model pengembangan
e-learning dengan pendekatan knowledge Management (KM) dan
model pendekatan e-learning dengan pendekatan Moodle.
1. Model Pengembangan E-Learning Dengan
Pendekatan Knowledge Management
Knowledge
Management (KM) dapat didefiniskan sebagai satu set (himpunan)
intervesi orang, proses dan tool (teknologi) untuk mendukung
proses pembuatan, pembau-ran, penyebaran dan penerapan pengetahuan. Pembuatan
pengetahuan adalah proses perbaikan atau penambahan potongan-potongan
pengetahuan tertentu selama proses pembelajaran terjadi melalui pengalaman.
2. Model Pengembangan E-Learning Dengan
Pendekatan Moodle.
Moodle adalah
sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat merubah sebuah media
pembelajaran ke dalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk
ke dalam ruang kelas digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan
menggunakan moodle, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis,
jurnal elektronik dan lain-lain. Moodle itu sendiri adalah
singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment.
Berbagai bentuk materi pembelajaran
dapat dimasukkan dalam aplikasi moodleini. Berbagai sumber dapat
ditempelkan sebagai materi pembelajaran. Naskah tulisan yang ditulis dari
aplikasi pengolah kata Microsoft Word, materi presentasi yang berasal dari
Microsoft Power Point, Animasi Flash dan bahkan materi dalam format audio dan
video dapat ditempelkan sebagai materi pembelajaran. resource
Berikut
ini beberapa aktivitas pembelajaran yang didukung oleh Moodle adalah
sebagai berikut (1) Assignment. Fasilitas ini digunakan untuk
memberikan penugasan kepada peserta pembelajaran secara online. Peserta
pembelajaran dapat mengakses materi tugas dan mengumpulkan hasil tugas mereka
dengan mengirimkan file hasil pekerjaan mereka, (2) Chat. Fasilitas
ini digunakan untuk melakukan proses chatting(percakapan online).
Antara pengajar dan peserta pembelajaran dapat melakukan dialog teks secara
online, (3) Forum. Sebuah forum diskusi secara online dapat
diciptakan dalam membahas suatu materi pembelajaran. Antara pengajar dan peserta
pembelajaran dapat membahas topik-topik belajar dalam suatu forum diskusi, (4)Kuis. Dengan
fasilitas ini memungkinkan untuk dilakukan ujian ataupun test secara online,
(5) Survey. Fasilitas ini digunakan untuk melakukan jajak
pendapat.
Strategi
pengembangan model e-learning perlu dirancang secara cermat
sesuai tujuan yang diinginkan. Jika disepakati bahwa e-learning di
dalamnya juga termasuk pembelajaran berbasis internet. Ada tiga kemungkinan
dalam strategi pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web
course, web centric course, dan web enhanced course (Haughey, 1998).
1. Web Course
Web course adalah
penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan
pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh
bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan
pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain
model ini menggunakan sistem jarak jauh.
2. Web Centric Course
Adalah penggunaan internet yang
memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian
materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka.
Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk
pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya.
Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang
relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi
tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.
Menurut Munir (2009: 199-200), dalam
beberapa kenyataan di lapangan pendidikan, jarang sekali ditemui pembelajaran
jarak jauh yang seluruh proses pembelajarannya dilaksanakan dengan e-learning atau online
learning. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diberlakukan blended
distance learning(campuran antara online course dan tatap
muka). Model pembelajaran jarak jauh dengan pendekatan blended
learning ini perlu dikembangkan dengan tujuan untuk memperluas
kesempatan belajar, diantaranya model pembelajaran jarak jauh. Model ini
merupakan gabungan pelaksanaan pendidikan konvensional dan IT-Based
education.
3. Web Enhanced Course
Model
web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan
kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk
memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar,
sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber
lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai
teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan
menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi
melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi
melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Dalam
penjelasan selanjutnya tentang strategi pelaksanaan model pembelajaran
e-learning, Sihabudin menguraikaan bahwa terdapat empat (4) model yang dapat
digunakan dalam pelaksanaan e-learning di sekolah yakni selective
model, seqquential model, static station model dan laboratory
model.
1. Selective
model dapat dilakukan bila jumlah komputer terbatas, sedangkan sequential model
dilakukan juga bila jumlah komputer terbatas dan siswa dalam kelompok kecil
bergerak dari satu set sumber informasi ke sumber yang lain.
2.
Bahan e-learning digunakan sebagai
bahan rujukan atau bahan informasi baru. Jika terdapat beberapa komputer, siswa
diberi peluang untuk mendapatkan pengalaman hands-on.
3. Pada static
station model, jika jumlah komputer sedikit, guru mempunyai beberapa sumber
berbeda untuk mencapai objektif pembelajaran yang sama. Bahan e-learning digunakan
oleh beberapa kelompok siswa manakala siswa lain menggunakan sumber yang lain
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Sedangkan pada
4. laboratory
model dilakukan jika jumlah komputer mencukupi untuk semua siswa, maka
bahan e-learning dapat digunakan oleh semua siswa sebagai
bahan pembelajaran mandiri. Model ini boleh digunakan jika sekolah mempunyai
perangkat komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet.
Permasalahan :
1. Bila
pembelajaran e-learning diimplimentasikan dalam suatu proses KBM, bagaimana
cara pendidik mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan
konstruktif dalam proses belajar mereka. Seperti yang kita ketahui pembelajaran
dengan model e-learning ini adalah pembelajaran
yang memang dirancang berbasis internet.
2. Apa
yang dapat dikombinasikan dengan penerapan model pembelajaran e-learning ini
supaya meningkatkan kontribusi dan interaktifitas antar peserta didik,
karena pembelajaran e-learning ini
berbasis online.
3. Bagaimana
pendapat Anda menegenai perbedaan pembelajaran tradisional dengan e-learning,
mana yang efektif digunakan dalam dunia pendidikan sekarang ini. Berikan alasan
Anda.
saya ingin menanggapi pertanyaan saudari nomor 3 dimana perbedaan pembelajaran tradisional dengan e-learning ini cukup jauh berbeda. dan bila ditanya manakah yang lebih efektif diantara kedua untuk dunia pendidikan saat ini? maka saya akan menjawab pembelajaran e-learning yang lebih efektif. mengapa demikian? menurut saya karena dengan pembelajaran berbasis E-learning maka pembelajaran akan semakin mudah, hemat waktu dan dapat menambah wawasan lebih banyak lagi. Selain itu dengan pembelajaran e-learning ini maka dapat mengimbangi sedikit perkembangan dari teknologi yang semakin cepat canggih. sehingga pula siswa dapat terlatih menggunakan teknologi sejak duduk di bangku sekolah
BalasHapustanggapan saya mengenai permaslahan yang ketiga ini, pembelajaran tradisional disini yang dimaksudkan itu seperti apa? jika yang dimaksudkan pembelajaran yang berpusat pada pendidik maka e-learning membantu untuk mewujudkan sistem pembeljaran yang menekankan untuk siswanya menjadi lebih aktif dengan interaksi yng dpaat dilakukan kapan saja yang tentu sangat kentara dengan pola belajar yang dahulu, dimana murid hanya menampung apa yang diberikan guru dan menunggu. dan tidak ada pengembangan dalam segi psikomotorik. menurut saya mana yang lebih efektif, adalah e-learning. namun disesuaikan dengan keadaan dari muridnya juga.
HapusBaiklah saya sepakat dengan rahmi yang mana yang paling efektif adalah pembelajaran a learning tetapi ada juga tatap muka dengan dosen seperti pembelajaran media karna menurut saya itu lebih efektif siswa akan lebih aktif
Hapussaya akan menanggapi permasalahan no.2 kombinasi dalam e-learning bis diterapkan Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online. Metode blended learning memberikan kesempatan bagi peserta pembelajaran online, salah satunya, untuk bertatap muka. Metode blended yang demikian banyak diterapkan utamanya ketika kompetensi yang hendak dicapai adalah keterampilan (psikomotorik) teretntu. Walaupun online learning memberikan kemudahan bagi para pelajar sebagai manusia, tetap memiliki keinginan untuk berada dalam suatu komunitas (dalam hal ini komunitas belajar) yang sesungguhnya, dan hal ini dipandang penting dalam pembelajaran. Dengan blended learning, guru tetap bisa berinteraksi secara langsung dengan siswa dengan juga menggunakan teknologi sebagai pendukung pembelajarannya. Satu hal yang perlu ditekankan dan dipahami adalah bahwa Blended Learning dapat digunakan sebagai alternatif dalam strategi pembelajaran karena dapat menggabungkan kegiatan pembelajaran konvensional di kelas dengan pembelajaran Online menuju kemandiri dalam belajar.
BalasHapusbaiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3 yaitu Pembelajaranan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran dimana secara umum, pusat pembelajaran berada pada guru, dan menempatkan siswa sebagai objek dalam belajar. Sistem pembelajaran tradisional memiliki ciri bahwa pengelolaan pembelajaran ditentukan oleh guru. Peran siswa hanya melakukan aktifitas sesuai dengan petunjuk guru. Sedangkan pembelajaran modern atau pembelajaran e-learning adalah salah satu hasil dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang mengubah konsepsi dan cara berpikir belajar manusia. Semakin meningkatnya perkembangan teknologi dan informasi tersebut mengakibatkan teori pembelajaran behavioristik dipandang kurang cocok lagi untuk dikembangkan bagi anak didik di sekolah. Untuk saat ini lebih efektif menggunakan proses pembelajaran e-learling karena akses internet sudah menyebar sampai ke plosok desa sehingga memudahkan kita dalam mencari informasi.
BalasHapusmenanggapi permasalhan saudarano or tiga terkait menegenai perbedaan pembelajaran tradisional dengan e-learning, mana yang efektif digunakan dalam dunia pendidikan sekarang ini. Menurut saya perbedaan diantara keduanya adalah kecanggihan terutama dalam penggunaan internet. untuk lebih efektifnya, e-learning dapat digunakan pada siswa-siswa yang berda si k0ta. sedangkan pembelajaran tradisional masih menggunakan media sederhana sebagai alat bantunya.
HapusSaya akan mencoba membahas permasalahan no 3. Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, dosen dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu, bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya..
BalasHapusJadi pendapat saya mengenai perbedaan ini bukan berarti dengan berkembangnya zaman, e-learning menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas. Dalam pendidikan konvensional fungsi E-Learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan .
Kemudian mana yang lebih efektif, menurut saya yang lebih efektif adalah dengan cara Penggabungan antara metode pembelajaran e-learning dengan model
pembelajaran tradisional (non e-learning). pada prinsipnya akan lebih berarti ketika e-learning digunakan bersama-sama dengan pembelajaran tradisional untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang memadukan e-learning dengan pembelajaran tradisional melalui metode tatap muka disebut blended learning. Didalam blended learning, e-learning dapat digunakan dalam berbagai fungsi yang dapat meningkatkan proses pembelajaran, diantaranya mempersiapkan
proses pembelajaran secara tatap muka, memberikan fasilitas agar peserta didik
dapat belajar lebih dalam tentang suatu pokok bahasan/ topic, menyediakan media
alternatif lain selain buku yang dapat diakses dimanapun, menyediakan media
untuk interaksi diluar kelas, antara pendidik dan peserta didik, baik melalui forum,
chating ataupun email, melalui LMS manajemen proses belajar dan mengajar
dapat di kelola dengan memanfaatkan TIK sehingga pengelolaan dapat lebih
efektif dan efisien. Melalui model pembelajaran ini dapat memperluas kesempatan belajar, membuat peserta didik lebih mandiri, meningkatkan interaksi antar pengajar dengan peserta didik, dan pengelolaan proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan efektif. Hal ini mendorong mahasiswa untuk berprestasi dan siap bersaing di dunia kerja
saya ingin mencoba menjawab pertanyaan ketiga saudari,
BalasHapusperbedaan paling terlihat antara E-Learning dengan pembelajaran biasa adalah dimana pada pembelajaran biasa pembelajran berpusat pada guru sehingga jarang sekali ada siswa yang mau belajar mandiri,
sedangkan E-Learning menuntut siswa belajar mandiri karena sumber blajar telah tersedia dimana mana dan itu bisa diakses kapan saja, tingga dengan kemauan siswa itu sendiri untuk belajar
selain itu,Pembelajaran umum melakukan tatap muka, sedangkan e-learning tidak,Pembelajaran umum menggunakan lisan, e-learning melalui audio visual,Sumber pembelajaran umum dari guru dan buku, sedangkan e-learning berbasis aneka sumber dan Pembelajaran umum terjadwal pasti, sedangkan e-learning lebih fleksibel
Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no 3.
BalasHapusDisini saya hanya akan memberi tanggapan yang mana lebih efektif menurut saya dan mengapa?
Pembelajaran e-learning lebih efektif karena Keunggulan penggunaan E-learning menekankan pada interaksi antara pembelajar dengan pemelajar dan antar pemelajar sendiri dalam mencapai tujuan pembelajaran, pemelajar tidak terlalu menggantungkan pada pembelajar lain sehingga dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber belajar dan belajar dari pemelajar yang lain.
Penggunaan E-learning mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide-ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain, antara pemelajar saling memberi respek dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan, setiap pemelajar terberdayakan untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. Pembelajaran E-learning membuat prestasi akademik pemelajar lebih berhasil dibandingkan dengan belajar tanpa media. Merill (1996) mengilustrasikan bahwa dalam pembelajaran E-learning terjadi adanya ketergantungan positif dan interaksi promotif, maka pemelajar dapat meningkatkan tiga hal yaitu: pencapaian prestasi akademik, relasi sosial yang positif dan penyesuaian psikologis maupun kompetensi sosial
Baiklah, saya ingin menanggapi permasalahn yang ketiga. Mwnurut pendapat saya, e-learning adalah suatu system pembelajaran yang lebih efektif daripada konvensional, karena mempunyai beberapa keunggullan sebagai berikut:
BalasHapus(1) Mendayagunakan teknologi pendidikan secara lebih efektif, baik yang berkenaan dengan pendayagunaan media instruksional maupun yang berkenaan dengan endayagunaan komputer dalam sistem instruksional,
(2) Berdasarkan pengalaman,
(3) Mendayagunakan berbagai bentuk modular yang memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak belajar mandiri,
(4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah sendiri, (5) Memungkinkan siswa sebagai pusat kegiatan,
(6) Menitikberatkan penguasaan bahan belajar secara tuntas,
(7) Mendayagunakan tenaga guru sebagai suatu regu pendidikan yang bertanggung jawab membimbing sekelompok siswa,
(8) Mempertimbangkan dan berijak pada kelompok siswa yang dianggap memiliki sifat dinamis sehingga pengajaran tidak hanya memperlihatkan aspek pengetahuan dan ketrampilan.
Saya akan menjawab pemasalahan anda yang ke 3 dimana Menurut Saya akan lebih efektif pembelajaran secara langsung karena akan lebih bermakna dibandingkan e-learning namun jika terdapat kendala seperti waktu pertemuaan yang sulit Maka e-learning INI merupakan solusi yang terbaik.
BalasHapusbaik saya akan menjawab permaslahan no 3
BalasHapusdimana dalam era globalisasi ini sangaat dianjurkan dalam penggunaan teknologi guna untuk mempermudah dalam proses pembelajaran. seperti diketahui semua informasi dapat diakses senidiri sehingga tidak mutlak semua inrmasi didapatkan dari guru. maka dari itu sangat terlihat bahwa pada pembelajaran konensional sangat tergantung pada guru sedangkan untuk eleaning tidak. dan dapat dilakukan dimana saja
saya akan menanggapi permasalahan saudari dimana Bagaimana pendapat Anda menegenai perbedaan pembelajaran tradisional dengan e-learning, mana yang efektif digunakan dalam dunia pendidikan sekarang ini. Berikan alasan Anda.
BalasHapusmenurut saya jika tergantung tempat dimana sekolah itu berada, jika sudah memadai fasilitas dan jaringan internet maka pembelajaran E-learning mampu dilakukan, namun jika dilihat dengan persaingan degan negara2 yang lainnya maka pembelajaran menggunakan E-learning sangat dianjurkan untuk membekali siswa dalam memahami elektronik dan mampu bersaing dengan dunia luar
baiklah saya akan mencoba menambahkan permasalahan no 3 dimana perbedaan pembelajaran tradisional dan pembelajaran e- learning adalah Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, dosen dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu, bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.
BalasHapuszaman sekarang yang lebih efektif adalah pembelajaran e-learning karena e- learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line. sehingga dapat di akses di zaman sekarang dan akan mempersingkat waktu.