TEORI
PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
A.
Pembelajaran Berbantuan Multimedia Berdasarkan Teori Beban Kognitif
Teori pemrosesan informasi didasari
oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting. Dalam
proses pembelajaran terjadi adanya proses informasi kemudian diolah sehingga
menciptakan suasanya yang terencana, dan suasana pembelajaran yang mendukung.
Teori pemrosesan informasi ini merupakan teori kognitif tentang belajar yang
menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari
otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh
sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena
itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan
semua informasi diproses dalam otak melalui beberapa indera.
Multimedia telah banyak digunakan
dalam pembelajaran. Menurut Istiyanto (2011), multimedia adalah media yang
menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks, grafik, gambar,
foto, audio, dan animasi secara terintegrasi. Menurut Mayer (2009:3), multimedia
didefinisikan sebagai presentasi materi dengan menggunakan kata-kata (verbal
form) sekaligus gambar-gambar (pictorial form). Pembelajaran berbantuan
multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam
proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan
sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan belajar
sehingga terjadi proses belajar yang sesuai tujuan dan terkendali (Istiyanto,
2011).
Menurut Mayer (2009:64), asumsi yang
mendasari teori kognitif tentang multimedia learning, yakni dual-channel
(saluran ganda), limited capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing
(pemrosesan aktif). Asumsi saluran ganda (dual-channel assumption) menyatakan
bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi
visual dan materi auditori. Informasi berupa kata-kata diterima oleh mata dan
telinga, sedangkan gambar diterima oleh mata yang merupakan memori sensorik.
Setelah diseleksi oleh memori sensorik, informasi diteruskan ke memori kerja.
Di dalam memori kerja, informasi diorganisasikan untuk diintegrasikan yang
selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang. Teori Kognitif tentang
Pembelajaran Berbantuan Multimedia (Mayer, 2009: 68) Menurut Mayer dan Moreno
(2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan didasarkan
pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori
beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar. Pertama,
beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran
dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten. Kedua,
beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang
dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk
mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Ketiga, beban
kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang
dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang
tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.
B.
Teori Belajar dan Pembelajaran yang Melandasi Pembelajaran Berbantuan Komputer
Teori Belajar Behaviorisme, menurut
Thorndike dalam Karwono (2010:50) bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar
adalah adanya asosiasi atau menghubungkan antara kesan indera (stimulus) dengan
dorongan yang muncul untuk bertindak (respon) yang disebut dengan connecting.
Stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan mempengaruhi
perilaku selanjutnya. Perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu
yang dapat diamati, yang terjadi karena hubungan stimulus dan respon. Teori
belajar Thorndike disebut koneksionisme karena belajar merupakan proses
pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Hukum-hukum Thorndike
dalam Karwono (2010:51) yaitu hukum akibat (law of effect), hukum kesiapan (law
of readiness), dan hukum latihan (law of exercise). Penjelasan hukum-hukum
tersebut adalah sebagai berikut sebagai berikut
a.
Hukum akibat (law of effect) Hukum ini berisikan 2 hal, yaitu : suatu
tindakan/perbuatan yang menghasilkan rasa puas (menyenangkan) akan cenderung
diulang, sebaliknya suatu tindakan (perbuatan) menghasilkan rasa tidak puas
(tidak menyenangkan) akan cenderung tidak diulang lagi.
b.
Hukum kesiapan (law of Readiness) Hukum ini menjelaskan tentang kesiapan
individu dalam melakukan sesuatu. Kesiapan untuk bereaksi terhadap stimulus ang
dihadapi sehingga reaksi tersebut menjadi memuaskan.
c.
Hukum latihan (law of exercise) Prinsip dalam hukum latihan ini adalah tingkat
frekuensi untuk mempraktikkan (seringnya menggunakan hubungan stimulus-respon),
sehingga hubungan tersebut semakin kuat. Mengulang merupakan hal yang pertama
dalam belajar. Makin sering suatu pelajaran yang diulang makin mantaplah bahan
pelajaran tersebut dalam diri siswa.
Menurut teori belajar ini agar
respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap maka hukuman
(punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hasil belajar merupakan perubahan
tingkah laku yang ditentukan adanya hubungan stimulus dan respon yang terjadi
melalui interaksi dengan lingkungannya. Hubungan antara stimulus dan respon
bersifat sementara maka diperlukan penguatan (reinforcement) dan dilakukan
sesering mungkin agar respon yang diperoleh dapat bertahan lebih lama. Di dalam
multimedia interaktif peningkatan hasil belajar diperoleh dengan memberikan
respon dengan cara menekan tombol lalu difasilitasi dengan umpan balik. Dengan
demikian siswa cenderung mengulang jika skor yang diinginkan belum tercapai.
Adanya tampilan program yang menarik dapat menimbulkan motivasi siswa sehingga
aspek kesiapan belajar juga akan muncul. Penggunaan Multimedia Interaktif dalam
pembelajaran merupakan stimulus untuk memperoleh penguatan (reinforcement)
hasil belajar yang programnya menfasilitasi perbedaan siswa , adanya respon
benar-salah, adanya penskoran dan unsur belajar mandiri. Dalam kegiatan
pembelajaran siswa dituntut dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari dalam bentuk perubahan perilaku yang dapat diamati dalam bentuk
unjuk kerja pengoperasian.
Permasalahan
:
1.
Dalam pemrosesan suatu informasi program pembelajaran dengan teori behaviorisme
memiliki konsep hubungan antara stimulus dan respon yang mementingkan
faktor-faktor penguat (reinforcement). Berikan pendapat anda mengenai diatas
dan jelaskan beberapa faktor penguat yang dimaksud.
2.
Apabila kapasitas kognitif siswa kelebihan beban (overload cognitive) maka
pembelajaran akan terganggu sehingga dia tidak akan mampu untuk memproses suatu
informasi, jadi teori pemrosesan
bagaimana yang harus dilakukan guru untuk mengatasi masalah di atas?
3. Informasi yang di peroleh akan lebih mudah diproses jika dalam informasi tersebut telah terorganisir dengan baik. Bagaimana starategi guru mengunakan media supaya inforimasi yang disampaikannya dapat terproses di pikiran siswa kaitkan dengan teori pemrosesan informasi. Karena pada umumnya semakin tertata informasi yang di sajikan, semakin mudah untuk mengingatnya.
3. Informasi yang di peroleh akan lebih mudah diproses jika dalam informasi tersebut telah terorganisir dengan baik. Bagaimana starategi guru mengunakan media supaya inforimasi yang disampaikannya dapat terproses di pikiran siswa kaitkan dengan teori pemrosesan informasi. Karena pada umumnya semakin tertata informasi yang di sajikan, semakin mudah untuk mengingatnya.
baik saya akan menanggapi permasalahan no 2
BalasHapusMenurut Sweller (2009), jika kapasitas kognitif siswa kelebihan beban (overload cognitive) maka pembelajaran akan terganggu. Sehingga untuk mengatasi kesulitan belajar siswa antara lain melalui pembelajaran yang efektif dengan mengelola beban kognitif intrinsik, mengurangi beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germane (Kalyuga, 2009). Mayer dan Moreno (2010:131) menegaskan bahwa untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dapat dibantu dengan multimedia, karena multimedia efektif untuk mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germane. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbantuan multimedia berdasarkan teori beban kognitif yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah program linear siswa
Berpikir adalah salah satu kemampuan yang harus diajarkan oleh guru kepada siswa. Banyak sekali aktivitas atau profesi manusia yang tergantung pada kemampuan yang satu ini. Berpikir hanya dapat dilakukan oleh manusia, tidak oleh makhluk lain. Tidak heran jika kemampuan berpikir disebut sebagai kemampuan yang membuat kita menjadi manusia. Sejak dulu manusia begitu tertarik untuk mempelajari dirinya sendiri. Salah satunya adalah bagaimana sebenarnya proses berpikir itu terjadi. Manfaat bagi guru ketika memahami proses berpikir pada manusia, ia dapat memaksimalkan pengajaran untuk para siswanya.
Baiklah, saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1.
BalasHapusBelajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Penguatan disini ada beberapa macam yaitu :
a) Penguatan (Reinforcement)
Menurut Skinner, untuk memperkuat perilaku atau menegaskan perilaku diperlukan suatu penguatan (reinforcement). Ada juga jenis penguatan, yaitu penguatan positif dan penguatan negative.
b) Penguatan positif (positive reninforcement)
Didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan meningkat karena diikuti oleh suatu stimulus yang mengandung penghargaan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti oleh stimulus menyenangkan. Contoh, peserta didik yang selalu rajin belajar sehingga mendapat rangking satu akan diberi hadiah sepeda oleh orang tuanya. Perilaku yang ingin diulang atau ditingkatkan adalah rajin belajar sehingga menjadi rangking satu dan penguatan positif/stimulus menyenangkan adalah pemberian sepeda.
c) Penguatan negatif (negative reinforcement)
Didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan meningkat karena diikuti dengan suatu stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh, peserta didik sering bertanya dan guru menghilangkan/tidak mengkritik terhadap pertanyaan yang tidak berkenan dihati guru sehingga peserta didik akan sering bertanya. Jadi, perilaku yang ingin diulangi atau ditingkatkan adalah sering bertanya dan stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan adalah kritikan guru sehingga peserta didik tidak malu dan akan sering bertanya karena guru tidak mengkritik pertanyaan yang tidak berbobot/melenceng.
d) Hukuman (punishmen)
Yaitu suatu konsekuensi yang menurunkan peluang terjadinya suatu perilaku. Jadi, perilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau bahkan hilang karena diberikan suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh, peserta didik yang berperilaku mencontek akan diberikan sanksi, yaitu jawabannya tidak diperiksa dan nilainya 0 (stimulus yang tidak menyenangkan/hukuman). Perilaku yang ingin dihilangkan adalah perilaku mencontek dan jawaban tidak diperiksa serta nilai 0 (stimulus yang tidak menyenangkan atau hukuman).
Saya sependapat dengan statement saudari intan. Ringkasnya permasalahan no 1 dari saudari santha mengenai penguat pada teori behavior berkaitan erat dengan pemrosesan informasi. Seperti ada iming2 hadiah, hukuman, ataupun sesuatu yang menarik. Namun dalam pemrosesan informasi tak hanya teori behavior yang dipakai, namun juga teori kognitif. Gagne menggabungkan ide-ide berhaviorisme dan kognitivisme dalam pembelajaran. Menurut Gagne, dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal dengan kondisi eksternal individu. Kondisi internal adalah keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi di dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
HapusBaiklah disini saya akan menambahkan jawaban saudari intan mengenai permasalahan no 1,
HapusFaktor yang dianggap penting oleh aliran behavior adalah faktor pengutan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon bila pengutan ditambahkan maka respon semakin kuat. Begitu juga bila pengutan dikurangi responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam brlajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan itu justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar. Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan atau dikurangi untuk memungkinkan terjadinya respon.
Saya akan membantu menjawab permasalahan no.3, bagaimana strategi guru menggunakan media agar informasi dapat diproses oleh siswa, salah satunya adalah dengan strategi pemilihan media yang tepat. Pemilihan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sejalan dengan dengan tindakan seorang guru dalam menghadapi keaneka ragaman siswa dalam belajar, seorang guru memiliki banyak pilihan dalam menentukan media pembelajaran apa yang tepat, cocok.antara lain: 1) Ciptakan rancangan kelas yang multidiminsional, dan rancanagan pembelajaran yang menggambarkan keragaman kemampuan belajar. 2) Buat rancangan waktu belajar fleksibel. 3) Kelompokkan siswa berdasarkan basis kemampuannya. 4) Persiapkan strategi pembelajaran untuk kelompok sesuai dengan spesifikasi nya dengan strategi yang tepat. 5) Gunakan tutorial teman sebaya dan belajar bersama untuk menambah kemampuan dan pengalaman masing-masing siswa. ( Kauchak, 1998 :8)
BalasHapusSalah satu contoh pemilihan media yang dapat digunakan menurut gagne adalah dengan penggunaan mapping yang memang ditulis dengan struktur yang terorganisasi, sehingga memori tersebut tidak mudah hilang bahkan terus tersimpan dalam jangka panjang.
Saya akan membantu menanggapi permasalahan no. 3 strategi penggunaan media yang baik agar siswa lebih mudah memproses informasi adalah guru harus menggunaakan media yang mampu menarik pusat perhatian siswa agar informasi yang disampaikan lebih cepat di proses siswa. Beberapa hal yang harus dilakukan guru dalam menggunakan media adalah:
BalasHapus1. Menyamakan Persepsi Siswa. Dengan melihat objek yang sama dan konsisten maka siswa akan memiliki persepsi yang sama.
2. Mengkonkritkan konsep-konsep yang abstrak. Misalnya untuk menjelaskan tentang sistem pemerintahan, perekonomian, berhembusnya angin, dan sebagainya. bisa menggunakan media gambar, grafik atau bagan sederhana.
3. Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar. Misalnya guru menjelaskan dengan menggunakan gambar atau film tentang binatang-binatang buas, gunung meletus, lautan, kutup utara dll.
4. Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil. Misalnya guru akan menyampaikan gambaran mengenai sebuah kapal laut, pesawat udara, pasar, candi, dan sebagainya. Atau menampilkan objek-objek yang terlalu kecil seperti bakteri, virus, semut, nyamuk, atau hewan/benda kecil lainnya.
5. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat. Dengan menggunakan teknik gerakan lambat (slow motion) dalam media film bisa memperlihatkan tentang lintasan peluru, melesatnya anak panah, atau memperlihatkan suatu ledakan. Demikian juga gerakan-gerakan yang terlalu lambat seperti pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga wijaya kusumah dan lain-lain
Saya akan menjawab permasalahan Anda yang kedua dimana terdapat Beberpa prinsip yang mesti diperhatikan dalam memilih bahan pembelajaran yaitu; prinsip relevansi, prinsip konsistensi, dan prinsip kecukupan.
BalasHapusa. Prinsip Relevansi
Bahan pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan dan ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Misalnya, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
b. Prinsip Konsistensi
Bahan pembelajaran hendaknya bersifat konsisten atau ajeg terhadap kompetensi yang hendak dicapai. Jika kompetensi dasar yang hendak dicapai empat macam, maka bahan pembelajaran yang hendak disajikan harus meliputi empat macam bahan yang sesuai untuk mencapai empat kompetensi dasar dimaksud. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
c. Prinsip Kecukupan
Bahan pembelajaran yang diajarkan hendaknya cukup memadai atau memiliki kelayakan dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan. Bahan pembelajaran tidak boleh terlalu sedikit sehingga kurang membantu peserta didik untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan tidak boleh pula terlalu banyak sehingga membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Dengan beberapa prinsIP diatas dapat membuat materi pembelajaran lebih mudah d proses siswa
Baiklah, saya ingin menangggapi permasalahan anda yang kedua. Menurut pendapat saya beban tersebut dapat diatasi dengan cara menagajarkan materi pembelajaran secara berstruktur dan konsep intinya saja, karena apabila konsepnya telah dipahami maka anak akan membuat pengertian sendiri atau mengemabngkan sendiri materi yang telah diberikan menurut bahasanya sendiri sehingga mudah diingatnya dan tidak membebankan pikirannya dengan materi yang sangat banyak.
Hapussaya sependapat.. dan terkait pernyataan bahwa Apabila kapasitas kognitif siswa kelebihan beban (overload cognitive) maka pembelajaran akan terganggu sehingga dia tidak akan mampu untuk memproses suatu informasi. sebenarnya informasi itu diprosesnya namun tidak sampai pada memori jangka panjang. sehingga guru harus mampu mengarahkan dan membimbing serta memberi pengertian kepada siswa terkait peyampaian informasi dalam belajar.
Hapusdisini saya akan menanggapi permasalahan sudari dimana Apabila kapasitas kognitif siswa kelebihan beban (overload cognitive) maka pembelajaran akan terganggu sehingga dia tidak akan mampu untuk memproses suatu informasi, jadi teori pemrosesan bagaimana yang harus dilakukan guru untuk mengatasi masalah di atas?
BalasHapuscaranya adalah dengan cara mengurangi materi yang disampaikan dalam satu kali pertemuan, sehingga materi yang banyak dibagi-bagi kedalam bentuk materi yang singkat yang disampaikan tidak dalam satu waktu sekaligus, disini mampu membuat anak lebih mampu mengingat pelajaran dengan optimal, atau dengan mengorganisasikan materi yang disampaikan
baiklah saya akan menambahkan permasalahan no 3 yaitu strategi yang dilakukan oleh guru adalah dengan melakukan pendekatan seperti KONTEKSTUAL. Pendekatan Kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran yang memposisikan siswa sebagai pelaku. Siswa mengalami kegiatan sendiri di lingkungannya.KONSTRUKTIVISME. Pendekatan Konstuktivisme yaitu pendekatan pembelajaran ini memiliki dasar berpikir mirip dengan pendekatan pembelajaran kontekstual namun perbedaannya terletak pada siswa diberikan stimulus pengetahuan yang lebih sering.DEDUKTIF – INDUKTIF. Pendekatan Deduktif – Induktif yaitu pendekatan yang berbeda namun saling mendukung.Pendekatan deduktif ditandai dengan penjelasan konsep, definisi, dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran.
BalasHapus